18 Apr 2018

Perbedaan Tense dan Aspect

Perbedaan Tense dan Aspect

Dalam bahasa Inggris hanya ada dua Tense: (1) Present Tense dan (2) Past Tense. 

Sementara yang diistilahkan aspect terdiri dari: 
  1. present progressive aspect, 
  2. past progressive aspect, 
  3. present perfect aspect, 
  4. past perfect aspect, 
  5. present future aspect, 
  6. past future aspect, 
  7. (simple) past aspect, 
  8. (simple) present aspect,
  9. present progressive future aspect, 
  10. past progressive future aspect. 
  11. present perfect progressive
  12. past perfect progressive. 
Progressive juga biasa diistilahkan continuous. 

Inilah kesalahan umum buku-buku grammar di Indonesia yang menganggap aspect sama dengan tense. Namun perlu disadari ini dilakukan dengan tujuan memudahkan para pelajar bahasa Inggris dalam memahami pola-pola kalimat perbedaan waktu (tense) dalam bahasa Inggris. 

Istilah perbedaan antara tense dan aspect terkhusus digunakan dalam bidang applied linguistics

Lebih jauh, berikut penjabaran beserta contoh aspect dari masing-masing tense:
Aspects of the present tense:
  • Present simple: He studies English
  • Present progressive: He is studying English. 
  • Present perfect: He has studied English
  • Present perfect progressive: He has been studying English for 3 hours. 
Aspects of the past tense
  • Past simple: He studied English yesterday.
  • Past progressive: He was studying English yesterday when I came to visit him.
  • Past perfect: He had studied English before I came.
  • Past perfect progressive: He had been studying English for 3 hours before I came. 

14 Apr 2018

Apa itu Discourse Marker?

Apa itu Discourse Marker?

Discourse marker itu kata lainnya penghubung (connector). Di bahasa sehari2 kita istilahkan connector. Jadi, discourse marker sama dengan connector.

Banyak jenis dari discourse marker (connector). Termasuk connecter yang menyatakan contrast (e.g., however, nonetheless, in contrast), cause and effect e.g., because, time and sequence e.g., first, second, third dan lain lain. 

Untuk referensi yang baik silahkan kunjungi 

  • https://dictionary.cambridge.org/grammar/british-grammar/discourse-markers/discourse-markers-so-right-okay
  • https://warwick.ac.uk/fac/soc/al/globalpad/openhouse/academicenglishskills/grammar/discourse/#Q1

12 Apr 2018

Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Teori Behaviorism dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Berikut beberapa implikasi teori behaviourisme (Behaviorist Theory) dalam pembelajaran bahasa Inggris. 

Pada dasarnya teori behaviorisme bukanlah teori yang dikhususkan untuk pembelajaran bahasa Inggris. Teori behavioris ini diperuntukkan untuk semua pembelajaran termasuk matematika, fisika, dan lain-lain. 

Reinforcement and punishment 

Teori behaviorisme menekankan pentingnya pemberian hadiah (reinforcement) dan hukuman (punishment). Menurut para ahli bidang teori ini, pemberian hadiah mampun memotivasi dan mendorong pelajar untuk terus belajar dan berusaha memahami pelajaran. Sementara hukuman dimanfaatkan ketika siswa tidak melakukan pembelajaran sebagaimana mestinya. Dengan hukuman, diharapkan siswa tidak akan lagi melakukan kesalahan mereka dalam proses pembelajaran dan juga ini memberi tahu mereka bahwa apa yang mereka lakukan merupakan hal yang salah, sehingga dapat membuat mereka menghindari kesalahan yang sama ke depannya.

Imitation, practice, dan feedback
Behaviorisme percaya bahwa siswa, sebagaimana anak-anak, mampu berbahasa karena mengandalkan proses imitasi (peniruan). Mereka juga yakin bahwa dalam meniru siswa mesti terus melakukan pengulangan (practice). Misal, ketika siswa ingin belajar tentang kalimat "how are you?", mereka mesti terus mengulang mengatakan kalimat ini. Inilah asal dari istilah `Practice makes perfect!`.

Penting bahwa pengulangan ini dilakukan dengan cara meniru bagaimana orang dewasa melakukannya, termasuk mengikuti cara pengucapannya (pronunciation). Agar siswa sukses dalam hal imitasi (peniruan), guru diharapkan mampu memberikan model yang benar. Misal, ketika siswa mengatakan kalimat salah, seperti `I go to store yesterday`, maka guru diharapkan langsung secara konstan memberikan pembenaran (constant feedback) kepada siswa, karena ditakutkan mereka akan terus mengulang kesalahan yang sama. 

L1 transfer, interference and contrastive analysis
Bahasa pertama / bahasa ibu (L1) dapat mempengaruhi pembelajaran (pemerolehan) bahasa baik secara positif maupun negatif. Pengaruh L1 dapat membantu (positif) ketika struktur bahasa L1 itu mirip atau sama dengan bahasa yang sedang dipelajari (L2). Sementara ketika berbeda, maka dapat memberikan dampak negatif terhadap pembelajaran L2. Misal:
a. Saya pergi sekolah tiap hari. (I go to school every day.)
b. Saya pergi sekolah kemairn. (I went to school yesterday.)
c. Ali pergi sekolah tiap hari. (Ali goes to school every day.)

Terlihat di kalimat a, b, dan c bahwa kata kerja `pergi` dalam bahasa Indonesia tidak pernah berubah, sementara bahasa Inggris berubah dari `go` menjadi `went` dan `goes`. Perbedaan ini bagi penganut teori behaviorime dapat menghalangi siswa dalam belajar bahasa Inggris, dan perbedaan ini diistilahkan `interference`. Proses analisis perbedaan dan persamaan bahasa L1 & L2 dipelajari dalam teori `contrastive analysis`. 

Kritik

Dalam artikel ini tidak disediakan kritik teori behaviorisme secara rinci. Namun perlu diketahui bahwa teori ini sudah banyak dikritik dengan hasil penelitian saat ini termasuk tidak `masuk akal` nya kepercayaan bahwa L1 transfer dapat mempengaruhi pemerolehan bahasa sebagaimana yang dipercaya oleh para penganut teori behaviorisme. Alasannya ialah anak-anak dalam berbahasa kadang ditemukan membuat bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa orang dewasa. Misal, anak-anak biasa mengatakan `Don`t chocolate my biscuit!` (jangan memberikan coklat ke biskuit saya!). Kata `chocolate` mereka jadikan verb, sementara orang dewasa tidak pernah mengatakan hal tersebut, tidak pernah menjadikan kata `chocolate` menjadi verb. Pertanyaanya kemudian ,darimana mereka (anak-anak) mendapatkan kalimat seperti ini?

Main reference:
VanPatten, B., & Williams, J. (Eds.). (2014). Theories in second language acquisition: An introduction. Routledge.

8 Apr 2018

5 Kunci Sukses Menguasai Bahasa Inggris

5 kunci sukses bisa fasih berbahasa Inggris - berdasarkan hasil penelitian saat ini:


1. Input
Mesti sering Listening & Reading. Disarankan materi yg authentic (diproduksi oleh native speakers)

2. Interaction
Mesti sering melakukan komunikasi, praktek speaking dg cara interaksi dl bahasa Ingggris. penelitian beberapa mengatakan lebih bermanfaat sekiranya interaksinya sesama pelajar (level kemampuan bahasa Inggris tidak jauh beda) dibanding interaksi dengan native speaker.

3. Ouput
Selain mesti sering praktek speaking, writing juga mesti sering dilakukan. Dengan sering praktek ke dua skill ini, pelajar -baik secara langsung ataupun tidak- akan memperhatikan dan memperbaiki kesalahan2 dan kekurangan2 bahasa Inggris mereka. Dengan mengatahui kelemahan (gap) bahasa Inggris mereka, makan akan dorongan untuk memperbaiki atau meningkatkan kelemahan itu.

4. Atitude
Sikap terhadap bahasa Inggris itu. Dalam poin ini termasuk pentingnya motivasi dalam belajar bahasa Inggris. Alasan atau motive mesti kuat.

5. Attention
Nah ada pelajar yang speaking nya lancar, namun akurasinya rendah. speaking bagus dalam hal penyampaian ide namun lemah dl hal akurasi (grammar). penelitian saat ini mengatakan kemungkinan besar gagalnya dalam hal akurasi diakibatkan lemahnya dalam perhatian terhadap pola2 bahasa Inggris (grammar). Jadi ketika belajar bahasa Inggris, pelajar juga tidak boleh meninggalkan perhatian terhadap grammar.